Bocah Gendeng

Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku, Senajan To Akeh Ngelmune Lamun Ora Ditangkarake Lan Ora Digunakake, Ngelmu Iku Tanpa Guna. Sugeng Midangetaken Kalian Nyruput ” KOPI TEH SUSU ” Masih Khas Asli Jawa Timur. No Telp, 081 330 403 439 atau Email : bimokukuponconoko@ymail.com. Nuwun.

Minggu, 13 November 2011

Tahta Lan Raja


SINGGASANA TAHTA TANAH JAWA MERUPAKAN CIKAL BAKAL “WAHYUNING” PURWOREJO HADI PURWO

Sungguh sangat ironis sekali bila kita bicara tentang kata “Singgasana Tahta” maka hal ini akan berakibat timbul suatu pertanyaan beruntun : siapa, apa, bagaimana dan dimana ?. Mengapa hal ini menjadi ironis, jika kita sadari bersama bahwa “Wong cilik atau turune wong tedhak pidak pejarakan” sangat jauh dari jangkauan “Wahyu Keprabon” yang identik dengan “Wahyu Cakraningrat”. Disini kami selaku seorang sepiritualis dan pengamat dunia metafisika dengan ijin “Alloh Subhanalloh Ta’ala dan Li riddoillah wali safaati Rosullilah hi Solollohu Alaihi Wassallam sekaligus para Dahyang Tanah Jawa / Nusantara” ingin memberikan suatu wacana dan pengetahuan bahkan sebuah kesaksian kepada para pembaca yang tercinta untuk mengetahui, mengerti dan mencintai Tanah Air Nusantara bahkan kota Purworejo Hadipurwo ini. Kami menggunakan istilah Purworejo Hadipurwo karena belum adanya lisensi publik dan pengakuan dari wilayah kerajaan setempat yang lebih muda di bandingkan dengan bumi Bagelen / Purworejo, mestinya Bagelen / Purworejo lebih berhak menggunakan istilah “Hadiningkrat” karena jika melihat sejarah lebih tua dan “Wahyu Keprabon” lebih dahulu bersemayam di bumi Bagelen / Purworejo ini. Berkiblat dari orde rotasi / perputaran wahyu, bahwa wahyu bibit kawit / berasal dari Jawa Timur dan matang di Jawa Tengah sebelah selatan termasuk Purworejo Hadipurwo, hal ini terbukti pada masa kejayaan “Mataram Kuno” telah berdiri dan tersebar kerajaan di daerah Purworejo Hadipurwo dengan bukti autentik “Prasasti Kayu Arahiwang” hal demikian menandakan bahwa “Wahyu Keprabon / Wahyu Kerajaan” telah bersemayam di bumi Purworejo Hadipurwo. Sehingga Purworejo Hadipurwo secara nyata telah melahirkan orang-orang besar yang berkiprah untuk Bangsa dan Negara Indonesai tercinta ini. Perlu panjenengan ketahui bahwa Wahyu Nusantara itu sebenarnya kembar, semula jaman kejayaan Majapahit yang diemban oleh Prabu Brawijaya yang diemong / diasuh oleh “Sabdo Palon dan Naya Genggong” yang selalu membawa wahyu kembar bernama “Jas Dongker Kuluk Mekutoromo” dan “Payung Sleret Tunggul Naga” dua hal inilah yang merupakan “Wahyu Keprabon” sehingga Majapahit dapat mengalami masa keemasan dan kejayaannya. Namun ketika Brawijaya tergoda wanita Campa hingga melahirkan Raden Patah dan Islam masuk terjadilah bencana dan huru hara. Ketika menjelang keruntuhannya Majapahit dipimpin oleh Brawijaya Pamungkas terkenal dengan sebutan Sunan Lawu. karena kecewa Sapdo Palon Naya Genggong melebur diri bersatu menjadi “Semar Badranaya” yang selalu membawa “Wahyu Jas Dongker Kuluk Mekutoromo” yang bersifat adem, ayem tentrem, wicaksana dan manunggaling kawula, sedangkan “Payung Sleret Tunggul Naga”bersifat panas, kadonyan, kewanitaan dan hawa nafsu jatuh kelautan bebas sekitar “Alas Purwo Banyuwangi” sehingga di terima oleh “Ibu Ratumas Segara Kidul”. Dengan hilangnya kedua wahyu tersebut sehingga Majapahit runtuh. Sapdo Palaon Naya Genggong dengan kata akhir meninggalkan saksi “Semasa masih ada pohon jarak dan pohon dadap yang hidup, berarti aku masih hidup” kata Sabdo Palon dan Naya Genggong. Ditinjau dari dunia metafisika bahwa mitos Sang Penguasa Pantai Selatan sungguh benar-benar ada hal ini dapat dilihat secara nyata bahwa banyak kerajaan dijaman dulu selalu di dekat pinggir kali atau pantai, hal ini oleh raja dimaksudkan untuk berhubungan dengan Sang Penguasa Pantai sangatlah mudah dikarenakan sungai merupakan jalan pintas para utusan atau Sang Penguasa Pantai sendiri untuk berhubungan. Namun di jaman global seperti sekarang hal ini sangat “musrik” dan “tabu” untuk dibicarakan. Hal ini kami sadari karena mereka tidak mengerti adanya dunia maya diluar kita. Atas ijin panjenengan sami para sesepuh golongan putih dan golongan apapun serta “Ibu Ratu Mas Segara Kidul” perkenankanlah kami untuk mengungkap hal tsb. Kenyataan perjalanan laku spiritual kami, bahwa Sang Penguasa Pantai Selatan itu ada 3 (tiga) kekuatan dan kenampakan yaitu : “Ibu Ratumas Segara Kidul, Ratu Kidul dan Mbok Rara Kidul”. Ketiganya adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan (tritunggal), sebagai pemegang tampuk pimpinan paling bijaksana adalah Ibu Ratumas Segara Kidul dan keduanya adalah merupakan patih njero (dalam) dan patih njobo (luar). Mengapa kami berbicara masalah Ibu Ratumas Segara Kidul ? Karena setelah Nusantara merdeka, bahwa Presiden RI pertama Ir. Soekarno pun mengikuti laku tirakat para Raja Jawa terutama Raja Mataram untuk bermitra dengan Ibu Ratumas Segara Kidul (Ingat Kamar di Hotel Samodra Beach), sehingga Presiden RI karena ketulusan dan kebersihan jiwanya dapat mendapatkan “Jas Dongker Kuluk Mekutoromo” dan “Payung Sleret Tunggul Naga” sehingga Nusantara pernah jaya ketika dipimpin beliau namun “ndilalah kersane jawata” karena sifat dari Wahyu Payung Sleret Tunggul Naga adalah lambang nafsu dan wanita yang akhirnya runtuhlah. Ketika pemerintahan Soeharto, beliau yang satu ini juga doyan laku tirakat yang tidak lain adalah untuk menggapai wahyu, dari perjalanan laku ritualnya beliau mendapatkan “Wahyu” yang diemban langsung oleh Ibu Ratumas Segara Kidul sehingga pada masa kejayaannya beliau disanding langsung, hingga pemerintahannya bisa berlangsung lama. Keruntuhan pemerintahan Soeharto karena diawali adanya gugatan gaib dibulan sura tahun 1998 yang diprakarsai oleh “Semar Badranaya”. Ketika itu Semar mengutus seorang kesatria untuk melaksanakan “Dharmaning Kesatria Menyongsong Tumuruning Wahyu Tanah Jawa” kesatria tersebut adalah “Satria Putih” yang mempunyai makna gramatikal “Sinar Alloh Tumurun Rakhmat Ingkang Agung Pratanda Ujuding Titah Ingkang Hamemayu” Kesatria ini berada di Padepokan Agung “Garuda Cakra” di Lereng Menoreh daerah Perdikan Singgelopura atau lebih di kenal Lowanuh atau Lowano atau Loano. Cakramanggilingan merupakan perputaran wahyu yang sudah saatnya untuk manunggal menjadi satu antara Wahyu “Jas Dongker Kuluk Mekutoromo” dan Wahyu “Payung Sleret Tunggul Naga”.Pertapan Satria Putih dilaksanakan dipinggir Kali Bengawan Bogowonto hingga pertemuan dengan Ibu Ratumas Segara Kidul selama 40 (empatpuluh) malam untuk memohon kembalinya wahyu, pertentangan dan pertempuran sengit antara Raden Rangga yang merupakan manusia setengah siluman adalah (putra Raja Mataram Panembahan Senopati dengan Ibu Ratumas Segara Kidul) yang tidak menginginkan wahyu untuk dikembalikan, namun pertarungan tak dapat terelakkan sehingga kemenangan pada Satria Putih. Wahyu tanah jawa tersebut dengan keiklasan Ibu Ratumas Segara Kidul diserahkan kepada Satria Putih yang selanjutnya diterima, disatukan dan digembol / dibawa oleh “Semar Badranaya” dengan iringan Suara Adzan, Iqomat dan tembang ilir-ilir serta ejaan bacaan hurup jawa (ha, na, ca, ra, ka, da ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma ga, ba, tha, nga) yang dilantunkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, makna apakah yang tersirat dari kejadian tersebut ?. Benar-benar terjadi, malam wahyu diserahkan pagi hari terdengar khabar Ibu Tien Soeharto meninggal dunia, ada hubungan apakah dibalik ini ? Dan berlarut-larut demo menentang kekuasaan Soeharto tak dapat dielakan oleh pemuda dan mahasiwa. Mestinya sekarang sudah saatnya Nusantara kembali seperti kejayaan jaman Majapahit karena wahyu telah bersatu tinggal siapakah (wadah) yang siap untuk disemayami / dihinggapi oleh wahyu tersebut ?. “Barang siapa ingin menjadi orang nomor satu di Nusantara ”carilah“ Semar Badranaya” dan pintalah wahyu tersebut ? kalau anda beruntung mendapatkan dan diemong oleh “Semar Badranaya ” saya mengatakan “haqul yakin” andalah calon orang nomor satu di nusantara yang akan membawa obor kejayaan negeri ini dari puing-puing kehancuran. Wisik jaman mengatakan (maaf saya ulas kembali pada penerbitan SM Selasa, 30 – 12 – 2003 hal 27) yaitu “SINATRIO KONDUR DATAN WARINGIN RUBUH LINAMBARAN WARONO SETO”. Sudah siapkah pohon beringin untuk dibangkitkan oleh kesatria yang bersih hati, wicaksana dan hambeg parama arta. Kesatria ini sinamar sehingga sering dikatakan “Semune pudhak kesungsang” atau lebih jelas lagi “Satria Piningit” Harapan para leluhur tanah jawa kesatria tersebut adalah sinebut gelar “Pangeran Heru Cakra” jika kita kembangkan lebih jauh harapan tersebut tercermin pada gelar raja kerajaan Mataram yaitu “Senopati Ing Ngalogo Khalifatullah Sayidin Panata Gama” Kembali pada Purworejo Hadipurwo menurut peta penyebaran wahyu gaib, bahwa daerah ini pernah dan merupakan lintasan pusar kedua wahyu tersebut, maka dimungkinkan suatu ketika dari Purworejo Hadipurwo ada pemimpin agung yang akan bangkit dan “Noto Nagoro” nusantara ini. Namun perlu di ingat untuk para pejabat baik pejabat politik ataupun pejabat birokrasi di Purworejo Hadipurwo, karena daerah ini merupakan basis lintasan wahyu maka aura kekuatan magis tersebut akan terpancar seantero Purworejo bahkan nusantara ini hingga siapapun yang terlintas kekuatan tersebut godaanya adalah “Tahta, Harta, dan yang paling utama adalah Wanita” bagi yang tidak kuasa menahan godaan taruhannya “Jabatan” (puncak karier ya cukup disitu saja atau akan turun bahkan kalau maju palagan akan kalah / apes) atau yang lebih parah lagi bakal “Ngunduh Wohing Pakarti” dikemudian hari. Ingatlah para pejabat kalau yang bukan hak dan bukan Ridlo Alloh anda lakukan jangan menyesal apabila para leluhur Purworejo Hadipurwo marah dan sumpah serapah “anda akan kwalat”. Untuk menetralisir agar saudara para pejabat di Purworejo Hadipurwo tidak mudah tergoda adalah selalu ingat pada YME dan keluarga yang selalu setia menanti dirumah. Sebagai pusat aura kekuatan Purworejo Hadipurwo ada pada kedua beringin kembar ditengah alun-alun Purworejo, sejenaklah anda merenung apa yang akan dan telah anda lakukan dengan menatap kedua pohon beringin kembar tersebut, lihatlah dengan mata bathin anda disana akan terlintas suatu bangunan “Sanggar Pamujan” jika ditarik garis lurus ke utara akan bertemu pada salah satu “Kamar di Dalem Agung Kadipaten” dan bila ditarik garis lurus ke selatan akan bertemu suatu tempat di desa “Watukuro” yang tidak lain menuju pantai selatan. Sanggar tersebut dikendalikan oleh sepasang kakek dan nenek berjubah putih beliau adalah “Panembahan Agung Atas Angin” atau lebih dikenal oleh para Ulama Sufi daerah Jawa Timur adalah “Kyai Atas Angin” dari Bagelen. Yang merupakan sebuah misteri timbulnya Kerajaan Bagelen dan yang sekarang ini menjadi Purworejo Hadipurwo. Insayaalah anda akan sluman, slumun, slamet tansah sumingkir bebaya rubeda giri goda lan patemboyo adem, ayem tentrem gemah ripah loh jinawi tata tur raharja. (mohon maaf tempat tersebut bukan untuk disembah dan dipuja) Demikian sekilas wacana dan kesaksian yang dapat saya tuturkan semoga dapat menjadikan pengetahuan atau laku dan instropeksi anda untuk “ngupadi” wahyu keprabon tersebut, untuk kebenaran peristiwa tersebut kembali kami serahkan pada yang di atas sana “Allahualam”

Santet Sulit Dinalar Tapi Ada

Apakah ilmu santet itu benar-benar ada ?
Ya.
Bolehkan belajar ilmu santet ?
Jika anda beriman kepada Allah, tidak boleh.
Apakah santet itu masuk akal ?
Santet tidak bisa dinalar alias tidak masuk akal.
Apakah di luar negeri ada ilmu santet ?
Ada, tapi namanya lain, tergantung daerah dan kultur masyarakat.
Apakah kalau kita tak percaya santet, kita nggak akan bisa disantet ?
Santet bukan soal percaya nggak percaya. Meski seseorang tidak percaya hal tak masuk akal seperti ini, santet tetap berpotensi bisa menyerang yang bersangkutan.
Sebenarnya apa sih ilmu santet itu ?
Saya cukup lama mengamati fenomena ilmu santet. Di daerah lain di Indonesia, santet kadang punya sebutan sendiri-sendiri. Misalnya, guna-guna, teluh, dan sebagainya. Beberapa literatur budaya pernah menyinggung soal ilmu gaib ini. Pun, masing-masing orang mendefinisikan sendiri apa sebenarnya ilmu santet itu.
Ilustrasi Santet
KEBATHILAN: Semua jenis santet pada dasarnya sama, yakni bertujuan menyakiti atau membuat orang lain menjadi sengsara. Beberapa jenis santet memiliki daya rusak tinggi dan bisa membunuh orang dengan cara yang tidak logis.
Santet sebenarnya termasuk ilmu sihir. Bangsa jahiliyah juga mengenal ilmu sihir, sejak zaman para nabi. Cuma beda sebutan saja. Dalam perspektif ilmu energi, santet termasuk energi negatif. Meski ada sebagian pihak mengklaim kalau ilmu santet bisa untuk kebaikan, atau setidaknya membela kebaikan, saya tetap menggolongkan ilmu santet sebagai energi negatif.
Dan ini yang menarik. Saya punya temuan tersendiri soal santet.
Ternyata, santet tidak melulu harus memasukkan sesuatu barang ke tubuh manusia. Tidak selalu harus mengubah materi menjadi energi, energi masuk ke target, lalu di dalam tubuh target energi itu berubah menjadi materi. Tidak harus demikian. Bahkan, tidak perlu ke dukun santet untuk menyantet orang. Orang biasa yang tak punya ilmu santet pun, bisa menyantet orang lain.
Dengan latar belakang itulah, maka saya menganggap ilmu santet adalah hal negatif berupa ucapan atau tindakan yang bertujuan untuk mencelakakan orang lain, baik dengan sengaja atau tidak sengaja menggunakan dimensi energi tertentu dan dengan cara tertentu pula untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Kategori mencelakakan bisa dalam bentuk membuat sakit sementara, sakit permanen, kecelakaan atau musibah, kelumpuhan, dan yang terberat adalah meninggal dunia.
Santet tetap sulit diterima dengan akal sehat. Sangat kontra logika. Tetapi, keberadaannya diakui sebagian masyarakat.
Jangan dibilang kalau diluar negeri tak ada ilmu santet, dengan alasan masyarakatnya rasional dan logis. Setiap negeri punya sebutan tersendiri oleh energi negatif yang satu ini. Tim VoA (Voice of America) pernah menayangkan soal tingkat kepercayaan masyarakat Amerika Serikat terhadap hal yang irasional. Dan ternyata, hampir 50 persen masyarakat Amerika mengamini tentang adanya hal-hal di luar akal sehat, baik itu berkaitan dengan hantu, roh, voodoo, paranormal activity dan sejenisnya. (*)

Jumat, 11 November 2011

Anggelar Sarung Kang Anyar



Duhai Sanak Kadangku,
Ketika kadang tersadar bahwa ” AGAMA ” yg selama ini diajarkan hanyalah sebuah formalitas ritual ” KOSONG TANPA MAKNA BATIN ” kering kerontang bak padang pasir di gurun Sahara . Bahwa AGAMA seakan-akan hanyalah sarana seleksi untuk memasuki wilayah SURGA atau NERAKA berdasarkan perintah banyak2 amal, sedekah, yg terkumpul dalam segebog iming-iming  ” seKARUNG PAHALA “.Buku-buku yang Sanak Kadang baca semuanya langsung menjelaskan tata cara tanpa bisa menerangkan ” LANDASAN FUNDAMENTAL “. Apa arti sebenarnya ini poro Sanak Kadangku??. Apakah kehidupan akan menjadi SEDANGKAL ini hingga sampainya hari kematian kelak??. Dari buku-buku yg Sanak Kadang baca itu didektekan bagaimana manusia diciptakan untuk beribadah, tapi BERIBADAH yang seperti apa?? Bisakah Sanak Kadang tekun menjalankan dan melaksanakan ibadah tanpa sedikitpun MEMAHAMI MAKNANYA??.

Duhai Sanak Kadangku,
Ketika kita mulai berani JUJUR pada DIRI SENDIRI, bahwa Kitab-kitab yg di Sucikan yg tak lain hanyalah sebuah ” KITAB GARING ” yg saat Sanak Kadang membacanya terasa ABSTRAK, ACAK dan tak terjangkau MAKNANYA. Sanak Kadang pasti akan bertanya-tanya, ketika Kitab GARING tadi memanggil ” Wahai orang-orang yg BERIMAN “ benarkah KITA termasuk di dalamnya?? Apakah yg bisa MEMBUKTIKANNYA?? Dan ketika KITA tidak merasa lagi yakin bahwa KITA tidak termasuk di dalam kelompok kaum yg disebutkan disana, ketika Kitab GARING tadi berbicara tentang golongan manusia yg TERSESAT, maka KITA mulai ramai-ramai berbondong-bondong dalam sederet ANTRIAN yg tanpa seorang komando untuk mencari-cari sosok figur PANUTAN, orang yg dapat KITA jadikan pembimbing kehidupan KITA untuk membukakan TABIR CAKRAWALA KESADARAN sang PRIBADI. Maka mulailah KITA mengikuti berbagai ritual KEAGAMAAN dalam bentuk PENGAJIAN ini dan itu…PELATIHAN SPIRITUAL ini dan itu. Memaksakan diri untuk meraih SERPIHAN MAKNA yg mungkin TERSERAK di dalamnya. Tapi ternyata, setelah sekian lama, KITA tidak juga memperolehnya. Pada suatu titik kulminasi tertinggi, mulailah timbul berupa KEJENUHAN, ada hujaman pertanyaan yg MENDOBRAK,MUNTAH SEMBURAT dan MUNCRAT begitu saja keluar dari bibir KITA. Mengapa kata ” YESUS,MUHAMMAD ” lebih banyak disebutkan dari pada ALLAH, ( Gusti kang Moho Suci,Sang Hyang Widi dll ). Mengapa demi YESUS, MUHAMMAD dan bukan demi ALLAH ( Gusti kang Moho Suci, Sang Hyang Widi dll )??. Mengapa hanya mengingat YESUS,MUHAMMAD dan seakan-akan melupakan Tuhan Pencipta Semesta Alam?? Dimanakah Sang Sumber URIP~HIDUP dari segala SUMBER itu BERSINGGASANA??. Di LANGITkah??? di Hamparan Pantai kah??? di Lembah Ngarai kah??? atau di Rumah rumah Ibadah itukah??? Dalam keterbatasan AKAL PIKIRAN kita dalam mencerna mengobrak abrik bayangan Angan angan dan Ilusi. Akhirnya mulailah KITA merindukan HAKEKAT KESUJATIAN DIRI yg terserak di sela-sela hamparan Ilalang mengering. Tanpa KITA sadari, mata ini  mulai MELEK sedikit demi sedikit menatapi berbagai TINGKAH POLAH isi Alam Semesta ini. Tanpa mampu bicara sepatah katapun, dengan caranya ALAM membuat KITA paham bahwa tidak ada yg salah dalam kehidupan selama ini. Alam menjelaskan bahwa semua kegagalan dan kegelisahan ini hanyalah semata-mata sebuah panggilan sayang dari pada Tuhan Pencipta Langit dan Bumi kepada KITA. Kenapa??? Agar KITA sadar dan MELEK bahwa KITA telah melupakan HAKIKAT MAKNA kehidupan hingga tersesat menjauh dari jalan lurusnya.

Duhai Sanak Kadangku,
Resapilah….pada saat KITA telah sampai pada kematangan dan kesiapan untuk membuka lebar-lebar jendela HATI sang PRIBADI lalu,…tiba tiba saja… mak bejudhul…mak bedunduk… muncul berbagai pertanyaan…SIAPAKAH AKU sebenarnya?? Untuk apa AKU terlahir di Alam KEGELAPAN ini?? Kemana AKU kembali?? Manunggalkah, Nyawijikah?? Atau masih BERCERAI BERAI menuntaskan PENYEMPURNAAN-Ku?? Tahukah AKU jalan kembali??? Tiba tiba saja,…..Blaaaaaaaaaarrr….Jedhuuueeeeeeeerrrr….” Man arfa Nafsahu waqad arafa Robbahu “…Kenalilah DIRIMU…URIPMU…HIDUPMU…maka engkau akan MENGENAL sang SUMBER URIPMU~HIDUPMU.

Siapakah SEMAR ... ???


Batara Semar
MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu.
Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.
Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.
Yang bukan dikira iya.
Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya), sebab takut kalau keliru.
Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.
Di dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa, ia diberi anugerah mustika manik astagina, yang mempunyai 8 daya, yaitu:
  1. tidak pernah lapar
  2. tidak pernah mengantuk
  3. tidak pernah jatuh cinta
  4. tidak pernah bersedih
  5. tidak pernah merasa capek
  6. tidak pernah menderita sakit
  7. tidak pernah kepanasan
  8. tidak pernah kedinginan
kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun atau kuncung. Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar yaitu; Batara Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, Sanghyang Suryakanta. Ia diperintahkan untuk menguasai alam Sunyaruri, atau alam kosong, tidak diperkenankan menguasi manusia di alam dunia.
Di alam Sunyaruri, Batara Semar dijodohkan dengan Dewi Sanggani putri dari Sanghyang Hening. Dari hasil perkawinan mereka, lahirlah sepuluh anak, yaitu: Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan, Batara Siwah, Batara Wrahaspati, Batara Yamadipati, Batara Surya, Batara Candra, Batara Kwera, Batara Tamburu, Batara Kamajaya dan Dewi Sarmanasiti. Anak sulung yang bernama Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan mempunyai anak cebol, ipel-ipel dan berkulit hitam. Anak tersebut diberi nama Semarasanta dan diperintahkan turun di dunia, tinggal di padepokan Pujangkara. Semarasanta ditugaskan mengabdi kepada Resi Kanumanasa di Pertapaan Saptaarga.
Dikisahkan Munculnya Semarasanta di Pertapaan Saptaarga, diawali ketika Semarasanta dikejar oleh dua harimau, ia lari sampai ke Saptaarga dan ditolong oleh Resi Kanumanasa. Ke dua Harimau tersebut diruwat oleh Sang Resi dan ke duanya berubah menjadi bidadari yang cantik jelita. Yang tua bernama Dewi Kanestren dan yang muda bernama Dewi Retnawati. Dewi Kanestren diperistri oleh Semarasanta dan Dewi Retnawati menjadi istri Resi Kanumanasa. Mulai saat itu Semarasanta mengabdi di Saptaarga dan diberi sebutan Janggan Semarsanta.
Sebagai Pamong atau abdi, Janggan Semarasanta sangat setia kepada Bendara (tuan)nya. Ia selalu menganjurkan untuk menjalani laku prihatin dengan berpantang, berdoa, mengurangi tidur dan bertapa, agar mencapai kemuliaan. Banyak saran dan petuah hidup yang mengarah pada keutamaan dibisikan oleh tokoh ini. Sehingga hanya para Resi, Pendeta atau pun Ksatria yang kuat menjalani laku prihatin, mempunyai semangat pantang menyerah, rendah hati dan berperilaku mulia, yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta. Dapat dikatakan bahwa Janggan Semarasanta merupakan rahmat yang tersembunyi. Siapa pun juga yang diikutinya, hidupnya akan mencapai puncak kesuksesan yang membawa kebahagiaqan abadi lahir batin. Dalam catatan kisah pewayangan, ada tujuh orang yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta, yaitu; Resi Manumanasa sampai enam keturunannya, Sakri, Sekutrem, Palasara, Abiyasa, Pandudewanata dan sampai Arjuna.
Jika sedang marah kepada para Dewa, Janggan Semarasanta katitisan oleh eyangnya yaitu Batara Semar. Jika dilihat secara fisik, Semarasanta adalah seorang manusia cebol jelek dan hitam, namun sesungguhnya yang ada dibalik itu ia adalah pribadi dewa yang bernama Batara Semar atau Batara Ismaya.
Karena Batara Semar tidak diperbolehkan menguasai langsung alam dunia, maka ia memakai wadag Janggan Semarasanta sebagai media manitis (tinggal dan menyatu), sehingga akhirnya nama Semarasanta jarang disebut, ia lebih dikenal dengan nama Semar.
Seperti telah ditulis di atas, Semar atau Ismaya adalah penggambaran sesuatau yang tidak jelas tersamar.
Yang ada itu adalah Semarasanta, tetapi sesungguhnya Semarasanta tidak ada.
Yang sesungguhnya ada adalah Batara Semar, namun ia bukan Batara Semar, ia adalah manusia berbadan cebol,berkulit hitam yang bernama Semarasanta.
Memang benar, ia adalah Semarasanta, tetapi yang diperbuat bukan semata-mata perbuatan Semarasanta.
Jika sangat yakin bahwa ia Semarasanta, tiba-tiba berubah keyakinan bahwa ia adalah Batara Semar, dan akhirnya tidak yakin, karena takut keliru. Itulah sesuatu yang belum jelas, masih diSAMARkan, yang digambarkan pada seorang tokoh Semar.
SEMAR adalah sebuah misteri, rahasia Sang Pencipta. Rahasia tersebut akan disembunyikan kepada orang-orang yang egois, tamak, iri dengki, congkak dan tinggi hati, namun dibuka bagi orang-orang yang sabar, tulus, luhur budi dan rendah hati. Dan orang yang di anugerahi Sang Rahasia, atau SEMAR, hidupnya akan berhasil ke puncak kebahagiaan dan kemuliaan nan abadi. 

Sangkan Paraning Dumadi


Dalam hidup ini, manusia senantiasa diingatkan untuk memahami filosofi Kejawen yang
berbunyi “Sangkan Paraning Dumadi”. Apa sebenarnya Sangkan Paraning Dumadi? Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Padahal, jika kita belajar tentang Sangkan Paraning Dumadi, maka kita akan mengetahui kemana tujuan kita setelah hidup kita berada di akhir hayat.
Manusia sering diajari filosofi Sangkan Paraning Dumadi itu ketika merayakan Hari Raya Idul Fitri. Biasanya masyarakat Indonesia lebih suka menghabiskan waktu hari raya Idul Fitri dengan mudik. Nah, mudik itulah yang menjadi pemahaman filosofi Sangkan Paraning Dumadi. Ketika mudik, kita dituntut untuk memahami dari mana dulu kita berasal, dan akan kemanakah hidup kita ini nantinya.
Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak tembang dhandanggula warisan para leluhur yang sampai detik ini masih terus dikumandangkan.

Kawruhana sejatining urip
Urip ana jroning alam donya
Bebasane mampir ngombe
Umpama manuk mabur
Lunga saka kurungan neki
Pundi pencokan benjang
Awja kongsi kaleru
Umpama lunga sesanja
Najan-sinanjan ora wurung bakal mulih
Mulih mula mulanya


Ketahuilah sejatinya hidup,
Hidup di dalam alam dunia,
Ibarat perumpamaan mampir minum,
Seumpama burung terbang,
Pergi dari kurungannya,
Dimana hinggapnya besok,
Jangan sampai keliru,
Umpama orang pergi bertandang,
Saling bertandang, yang pasti bakal pulang,
Pulang ke asal mulanya,

Kemanakah kita bakal ‘pulang’?
Kemanakah setelah kita ‘mampir ngombe’ di dunia ini?
Dimana tempat hinggap kita andai melesat terbang dari ‘kurungan’ (badan jasmani) dunia ini?
Kemanakah aku hendak pulang setelah aku pergi bertandang ke dunia ini?
Itu adalah suatu pertanyaan besar yang sering hinggap di benak orang-orang yang mencari ilmu sejati.
Yang jelas, beberapa pertanyaan itu menunjukkan bahwa dunia ini bukanlah tempat yang langgeng. Hidup di dunia ini hanya sementara saja. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita menyimak tembang dari Syech Siti Jenar yang digubah oleh Raden Panji Natara dan digubah lagi oleh Bratakesawa yang bunyinya seperti ini:

“Kowe padha kuwalik panemumu, angira donya iki ngalame wong urip, akerat kuwi ngalame wong mati; mulane kowe pada kanthil-kumanthil marang kahanan ing donya, sarta suthik aninggal donya.” (“Terbalik pendapatmu, mengira dunia ini alamnya orang hidup, akherat itu alamnya orang mati. Makanya kamu sangat lekat dengan kehidupan dunia, dan tidak mau meninggalkan alam dunia”)
Pertanyaan yang muncul dari tembang Syech Siti Jenar adalah:
Kalau dunia ini bukan alamnya orang hidup, lalu alamnya siapa?
Syech Siti Jenar menambahkan penjelasannya:

“Sanyatane, donya iki ngalame wong mati, iya ing kene iki anane swarga lan naraka, tegese, bungah lan susah. Sawise kita ninggal donya iki, kita bali urip langgeng, ora ana bedane antarane ratu karo kere, wali karo bajingan.” (Kenyataannya, dunia ini alamnya orang mati, iya di dunia ini adanya surga dan neraka, artinya senang dan susah. Setelah kita meninggalkan alam dunia ini, kita kembali hidup langgeng, tidak ada bedanya antara yang berpangkat ratu dan orang miskin, wali ataupun bajingan”)
Dari pendapat Syech Siti Jenar itu kita bisa belajar, bahwa hidup di dunia ini yang serba berubah seperti roda (kadang berada di bawah, kadang berada di atas), besok mendapat kesenangan, lusa memperoleh kesusahan, dan itu bukanlah merupakan hidup yang sejati ataupun langgeng.
Wejangan beberapa leluhur mengatakan:

“Urip sing sejati yaiku urip sing tan keno pati”. (hidup yang sejati itu adalah hidup yang tidak bisa terkena kematian). Ya, kita semua bakal hidup sejati. Tetapi permasalahan yang muncul adalah, siapkah kita menghadapi hidup yang sejati jika kita senantiasa berpegang teguh pada kehidupan di dunia yang serba fana?
Ajaran para leluhur juga menjelaskan:

“Tangeh lamun siro bisa ngerti sampurnaning pati,
yen siro ora ngerti sampurnaning urip.”

(mustahil kamu bisa mengerti kematian yang sempurna,
jika kamu tidak mengerti hidup yang sempurna).
Oleh karena itu, kita wajib untuk menimba ilmu agar hidup kita menjadi sempurna dan mampu meninggalkan alam dunia ini menuju ke kematian yang sempurna pula.

Kamis, 10 November 2011

MENYELAMLAH sendiri, Jangan hanya karena KATANYA


Sore itu ketika matahari mulai terbenam, aku bersama nelayan Tua asli dari Banyuwangi ( Muncar ) asyik ngobrol dibale panjang depan rumahnya menghadap pantai di Pulau Derawan. Kederhanaan hidupnya tercermin dalam rutinitas sebagai nelayan yg nampak selalu tegar dan murah senyum dalam lingkungan kelurga kecilnya. Dalam obrolan perkenalan ini ada hal yang membuatku tergelitik unutk mengetahui lebih dalam ttg prinsip hidup nelayan Tua ini. Ketika aku melontarkan pertanyaan apa yg bisa membuat pak Tua ini begitu tegar, murah senyum dan nampak bersemangat yg menyiratkan kebahagiaan dan kenyamanan dlm hidupnya.

Pak Tua, apa sebenarnya yang membuat bapak bgt semangat dan terkesan santai ( tdk ngoyo ) menjalani hidup ini, ” aku berseloroh “. Mas, Urip kwi nggur ” sawang sinawang ” sergah pak Tua. Donyo brono dudu ukuran seng biso ndadekno menungso urip bungah utowo seneng, bgt pak Tua menambahkan. Urip kwi biso digawe gampang ugo biso digawe susah. Intine ” Gampange wong Urip kwi, Uripe wong Gampang. Angele wong Urip kwi Uripe wong Angel “.Intine Susah lan seneng kwi ono njerone awake dhewe, dudu onok njabane awak dadine nek jarene piwulang Agomo, Surgo lan Neroko iku yo neng njerone awake dhewe seng wes diraksakno saiki dudu mengko lek wes tumekaning pati.

Sebelum pak Tua melanjutkan pembicaraannya, aku menyela…” Loh, bukannya di dalam Kitab Suci dikatakan bahwa Surga dan Neraka bisa ditemui di alam akherat nanti pak??? “. Pak Tua menimpali, Lo iku lak jarene Tulisan nok Kitab Suci, opo sampeyan percoyo karo tulisan???. Perkataan pak Tua ini membuatku tertarik untuk melanjutkan diskusi sambil cangkruk di bale panjang sambil ditemani suguhan wedang Kopi. Dengan semangat akupun melanjutkan pertanyaan seperti di bawah ini :

Santri Gundhul : Mengapa orang mesti beragama?

Nelayan Tua : Siapa yang mengatakan mesti?

Santri Gundhul : Sejak kecil aku dinasehati untuk menjadi orang yang taat beragama, karena hanya dengan demikian orang akan masuk surga. Lebih khusus, lagi, aku juga diajari bahwa hanya yang memeluk Islam yang bakal masuk surga.

Nelayan Tua : He, he…dan engkaupun percaya?

Santri Gundhul : Mau tidak mau, karena hanya dengan begitu aku bisa masuk surga. Siapa yang tak ingin masuk surga?

Nelayan Tua : Lantas, apa yang kau maksud dengan surga?

Santri Gundhul : Menurut berita yang kuterima, itu adalah sebuah tempat yang teramat indah, yang didalamnya ada kebun yang indah, sungai mengalir di bawahnya, dan yang paling menarik..ada bidadari-bidadari yang teramat cantik…

Nelayan Tua : Ooooo….jadi engkau berjuang menjadi pemeluk agama yang taat agar bisa menikmati semua itu?

Santri Gundhul : Ya, kurang lebih begitu….

Nelayan Tua : Bagaimana jika semua itu tak ada? Apakah engkau masih akan taat beragama?

Santri Gundhul : aku belum memikirkannya….

Nelayan Tua : Ternyata…engkau itu pribadi yang tak ikhlash..kau berbuat sesuatu karena ada maunya…ada pamrih

Santri Gundhul : Bukan begitu…aku hanya mengikuti apa yang diajarkan kepadaku….

Nelayan Tua : He, he…kini engkau berkilah……Tapi baiklah…apakah yang mengajarkanmu demikian, pernah melihat surga? Apakah mereka tahu pasti bahwa surga itu ada?

Santri Gundhul : aku tak yakin..yang kutahu..mereka mengatakan surga itu ada karena itulah yang dikatakan Kitab Suci…

Nelayan Tua : Oh..jadi, diapun belum pernah tahu dan melihat sendiri…..

Santri Gundhul : Lalu apa salahnya..bukankah yang dikatakan Kitab Suci itu pasti benar?

Nelayan Tua : Yang bilang salah siapa? aku hanya ingin tanya, apakah pemahamanmu, dan pemahaman orang-orang yang mengajarimu tentang yang dikatakan di dalam Kitab Suci itu pasti benar?

Santri Gundhul : Kalau boleh jujur, kemungkinannya bisa benar ya bisa salah…

Nelayan Tua : Lalu, apa yang bisa menjadi tolak ukur bahwa pemahaman itu benar atau salah…

Santri Gundhul : Bukankah..pemahaman terhadap Kitab Suci itu sudah baku? Bukankah semua ulama memahami bahwa memang surga itu seperti yang dikatakan di dalam kitab suci, dan bahwa itu hanya diperuntukkan bagi orang Islam?

Nelayan Tua : Itulah masalahnya….kamu menganggap sesuatu yang cuma merupakan pemahaman, persepsi, hasil olah pikiran, sebagai sebuah kebenaran yang mutlak dan baku…

Santri Gundhul : Lalu…bagaimana semestinya…?

Nelayan Tua : Mari kita bicara tentang sebuah samudera. Menurutmu, bagaimana caranya agar kita bisa tahu tentang samudera itu? Apakah kita sudah punya alat untuk mengetahuinya?

Santri Gundhul : Dengan mataku, aku bisa melihat permukaan samudera yang biru…kadang aku bisa melihat kapal berlayar di permukaan samudera itu…

Nelayan Tua : Baik…lalu apa yang ada di balik permukaan samudera itu? Ada apa di kedalamannya?

Santri Gundhul : aku bisa menduga-duga dengan pikiranku..mungkin di dalamnya banyak ikan…mungkin juga ada terumbu karang..atau barangkali ada kapal selam….

Nelayan Tua : Apakah pasti demikian yang ada di dalam samudera?

Santri Gundhul : Ya belum tentu…..

Nelayan Tua : Satu2nya cara untuk mengetahui apa yang sesungguhnya ada di dalam samudera itu kamu harus menyelam..kamu harus masuk ke kedalaman….

Santri Gundhul : Tentu saja…

Nelayan Tua : Lalu, bagaimana caranya agar kamu bisa tahu hakikat surga?

Santri Gundhul : Pertama, aku sekadar mempercayai apa yang dikatakan oleh orang yang menurutku pintar…Kedua, aku gunakan akalku untuk menduga-duga seperti apa surga itu…Tapi, jelas, aku memang tak akan tahu banyak tentang surga jika begitu…Yang paling mungkin membuat aku tahu kebenaran surga..ya aku harus masuk dulu ke situ..aku harus menyaksikannya langsung….

Nelayan Tua : Lalu apa yang menghalangimu untuk melakukannya?

Santri Gundhul : Bukankah itu tak perlu? Bukankah sudah ada kitab suci? Bukankah sudah ada ulama yang membimbing kita?

Nelayan Tua : Kalau kau tak lakukan, kau tak akan pernah tahu kebenaran sesungguhnya…kau hanya akan terus dalam praduga, prasangka….bahkan sejatinya, kau juga tak akan tahu apakah yang selama ini kau yakini, yang kau terima sebagai ajaran dari sekian banyak orang yang kau anggap pandai itu, benar atau salah….

Santri Gundhul : Kamu benar…..tapi mungkinkah?

Nelayan Tua : Di dalam dirimu…sesungguhnya ada pintu gerbang untuk mengetahui hakikat kebenaran yang selama ini tersembunyi?

Santri Gundhul : aku tak pernah mendengar hal itu…

Nelayan Tua : Ha..ha…ha….

Santri Gundhul : Mengapa tertawa..

Nelayan Tua : Kau naif sekali…Kau yakin sekali sebagai pemilik tunggal surga, tapi hal sepele begitupun kau tak tahu…

Santri Gundhul : Ajari aku….aku sadar bahwa aku memang naif..

Nelayan Tua : Untuk bisa menemukan gerbang itu..kau harus melakukan banyak hal: kau harus singkirkan kedengkian, amarah, keserakahan, dan berbagai keburukan lainnya dari dalam hatimu…

Lalu, kau sering-seringlah memasuki alam keheningan..buat pikiranmu diam sejenak..biarkan dirimu berhubungan dengan suara di dalam hatimu…Berikutnya…kau harus berbuat baik kepada semua yang ada di sekitarmu…termasuk kepada pepohonan, bebatuan, langit, penghuni langit, tetangga, leluhur, dan semuanya…

Santri Gundhul : Berat sekali….

Nelayan Tua : Ha, ha..begitu saja sudah berat kok yakin jadi pemilik surga….

Santri Gundhul : Dalam hati aku misuh misuh pada diriku sendiri…Diampuuuuuuttt…aku memang GEMBLUNG..!!.

Nelayan Tua : Ya sudah, berhubung sudah larut kita akhiri jagongan ini, istirahat dulu bukannya besok kau akan menyelam??? nanti kau akan tahu sendiri keindahan di dalam laut setelah kau menyelaminya sendiri bukan dari cerita2 yg dutuliskan orang lain dlm buku.

Santri Gundhul : Baik pak, terima kasih sudah bersedia menemani dan mengantarkan saya menyelam besok pagi.

Serat Sabdo Jati


Serat SABDO JATI.  RADEN Mas Ngabehi Ronggowarsito. Demikian nama salah seorang pujangga terkenal yang pernah menorehkan jejak gemilang dalam kesusastraan Jawa di abad 19. Namanya senantiasa dikenang sebagai pujangga besar yang karya-karyanya tetap abadi hingga kini.
Dari tangan pujangga asal Keraton Surakarta ini lahir berbagai karya sastra bermutu tinggi yang sarat nilai kemanusiaan. Buku-bukunya antara lain membahas falsafah, ilmu kebatinan, primbon, kisah raja, sejarah, lakon wayang, dongeng, syair, adat kesusilaan, dan sebagainya. Namun sebagian masyarakat Jawa, terutama rakyat jelata, sering mengidentikkan Ronggowarsito dengan karangan-karangan yang memadukan kesusastraan dengan ramalan yang penuh harapan, perenungan dan perjuangan.
Dilahirkan pada 15 Maret 1802 dengan nama asli Bagus Burham. Ayahnya seorang carik Kadipaten Anom yang bernama Raden Mas Pajangswara. Ibunya Raden Ayu Pajangswara merupakan keturunan ke-9 Sultan Trenggono dari Demak.
Bakat dan keahliannya dalam bidang kesusastraan semakin terasah dengan bimbingan kakeknya Raden Tumenggung Sastronegoro. Semenjak kecil, ia dibekali ajaran Islam dan pengetahuan yang bersandar pada ajaran kejawen, Hindu, Budha, serta ilmu kebatinan.
Karya-karya besarnya yang terkenal sampai saat ini adalah Serat Kalatidha yang berisi gambaran zaman penjajahan yang disebut “zaman edan”. Ada kitab Jaka Lodhang yang berisi ramalan akan datangnya zaman baik, serta Sabdatama yang berisi ramalan tentang sifat zaman makmur dan tingkah laku manusia yang tamak.Menjelang akhir hayatnya, Ronggowarsito menulis buku terakhir Sabdajati yang di antaranya berisi ramalan waktu kematiannya sendiri. Buku ini pun berisi ucapan perpisahan dan permohonan pamit karena Ki Pujangga akan segera meninggalkan dunia fana ini.
Pada 24 Desember 1873, pujangga besar dari tanah Jawa itu meninggal dunia dengan tenteram. Tempat peristirahatan terakhirnya terletak di Palar, sebuah desa kecil di wilayah Klaten-Jogjakarta. 
Hawya pegat ngudiya Ronging budyayu
Margane suka basuki
Dimen luwar kang kinayun
Kalising panggawe sisip
Ingkang taberi prihatos

Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,
agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita,
terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin.

Ulatna kang nganti bisane kepangguh
Galedehan kang sayekti
Talitinen awya kleru
Larasen sajroning ati
Tumanggap dimen tumanggon

Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama,
intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati, agar mudah menanggapi sesuatu.

Pamanggone aneng pangesthi rahayu
Angayomi ing tyas wening
Eninging ati kang suwung
Nanging sejatining isi
Isine cipta sayektos

Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan,
mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.

Lakonana klawan sabaraning kalbu
Lamun obah niniwasi
Kasusupan setan gundhul
Ambebidung nggawa kendhi
Isine rupiah kethon

Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran.
Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan)
akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul,
yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak.

Lamun nganti korup mring panggawe dudu
Dadi panggonaning iblis
Mlebu mring alam pakewuh
Ewuh mring pananing ati
Temah wuru kabesturon

Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan,
sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan itikad hati yang baik,
seolah-olah mabuk kepayang.

Nora kengguh mring pamardi reh budyayu
Hayuning tyas sipat kuping
Kinepung panggawe rusuh
Lali pasihaning Gusti
Ginuntingan dening Hyang Manon

Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya, sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek.
Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.

Parandene kabeh kang samya andulu
Ulap kalilipen wedhi
Akeh ingkang padha sujut
Kinira yen Jabaranil
Kautus dening Hyang Manon

Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir, tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan.

Yeng kang uning marang sejatining dawuh
Kewuhan sajroning ati
Yen tiniru ora urus
Uripe kaesi-esi
Yen niruwa dadi asor

Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran
melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan
tercela akhirnya menjadi sengsara.

Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung
Anggelar sakalir-kalir
Kalamun temen tinemu
Kabegjane anekani
Kamurahane Hyang Manon

Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.

Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun
Yen temen-temen sayekti
Dewa aparing pitulung
Nora kurang sandhang bukti
Saciptanira kelakon

Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan setulus hati.
Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi segala cita-cita dan kehendaknya tercapai.

Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur
Saka pengunahing Widi
Ambuka warananipun
Aling-aling kang ngalingi
Angilang satemah katon

Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui.

Para jalma sajroning jaman pakewuh
Sudranira andadi
Rahurune saya ndarung
Keh tyas mirong murang margi
Kasekten wus nora katon

Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan,
cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela,
makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan
diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.

Katuwane winawas dahat matrenyuh
Kenyaming sasmita sayekti
Sanityasa tyas malatkunt
Kongas welase kepati
Sulaking jaman prihatos

Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan tersebut,
senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut.

Waluyane benjang lamun ana wiku
Memuji ngesthi sawiji
Sabuk tebu lir majenum
Galibedan tudang tuding
Anacahken sakehing wong

Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877
(Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi 1945).

Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila, hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang.

Iku lagi sirap jaman Kala Bendu
Kala Suba kang gumanti
Wong cilik bisa gumuyu
Nora kurang sandhang bukti
Sedyane kabeh kelakon

Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba.
Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan makan seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.

Pandulune Ki Pujangga durung kemput
Mulur lir benang tinarik
Nanging kaseranging ngumur
Andungkap kasidan jati
Mulih mring jatining enggon

Sayang sekali “pengelihatan” Sang Pujangga belum sampai selesai, bagaikan menarik benang dari ikatannya.
Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir
datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.

Amung kurang wolung ari kang kadulu
Tamating pati patitis
Wus katon neng lokil makpul
Angumpul ing madya ari
Amerengi Sri Budha Pon

Yang terlihat hanya kurang 8 hari lagi, sudah sampai waktunya, kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon.

Tanggal kaping lima antarane luhur
Selaning tahun Jimakir
Taluhu marjayeng janggur
Sengara winduning pati
Netepi ngumpul sak enggon

Tanggal 5 bulan Sela
(Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu,
Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873)
kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan
sang Pujangga kembali menghadap Tuhan.

Cinitra ri budha kaping wolulikur
Sawal ing tahun Jimakir
Candraning warsa pinetung
Sembah mekswa pejangga ji
Ki Pujangga pamit layoti

Karya ini ditulis dihari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jim, akhir 1802.
(Sembah=2, Muswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi 1873)